Kerugian Ekonomi Karena Kompetisi Mandek Capai Triliunan
Pandemi virus corona membuat berbagai sektor menderita, tak terkecuali perekonomian negara. Kompetisi sepakbola di Tanah Air termasuk menjadi industri yang aktif menggerakkan roda ekonomi, begitu klaim ekonomi.
Kerugian ekonomi yang terjadi akibat penghentian kompetisi sampai tahun berkisar Rp 2,7 hinngga Rp 3 triliun dalam satu tahun. Jumlah yang cukup besar, karena sepakbola bisa memberi kesempatan kerja kepada kurang lebih 24 ribu orang.
Hal tersebut dipaparkan Kepala Kajian Iklim Usaha dan Rantai Nilai Global LPEM Universitas Indonesia (UI), Dian Revindo, saat bertemu ketua umum PSSI, Moch Iriawan di kantor PSSI, Jakarta Pusat, Jumat (26/6) petang.
“Patut dicatat, dampak ekonomi karena kompetisi itu tak hanya berhenti di ekonomi, tapi menghasilkan dampak sosial yang baik bagi anak muda, seperti kesehatan, dan tercurahnya aktivitas untuk hal-hal positif,” ucap Revindo, dikutip situs resmi PSSI.
Sebelumnya, Iriawan sempat menjadi pembicara pada web seminar (webinar) yang diadakan oleh UI. Pada webinar tersebut, sosok yang karib disapa Iwan Bule itu memaparkan bagaimana pentingnya untuk kembali menggeber kompetisi.
Iriawan mengapresiasi pemikiran peneliti Universitas Indonesia dan menyatakan bahwa PSSI terbuka menjalin kerja sama dengan para akademisi demi kemajuan sepakbola nasional, yang kini sedang merangkak untuk berkembang.
“Kami melakukan banyak hal yang dapat menghasilkan manfaat penting bagi kemajuan sepakbola Indonesia, termasuk kerja sama dengan para akademisi dunia pendidikan,” tutur Iriawan.
Kompetisi diharapkan bisa bergulir paling lambat Oktober, dengan segala protokol yang mengutamakan kesehatan. Kompetisi dinilai menjadi jalan penting untuk sepakbola Indonesia tidak diam di tempat selama adanya pandemi.
“Dengan kembali bergulirnya liga, para pelatih, pemain, dan komponen-komponen lain di klub akan kembali mendapatkan pemasukan. Sponsor pun mengucurkan lagi dananya,” tukas Iriawan.
Pertemuan ini juga dihadiri Yunus Nusi (plt sekjen PSSI), anggota Komite Eksekutif PSSI, Endri Erawan, Haruna Soemitro dan Dirk Soplanit, Staf Khusus Ketua Umum PSSI Leo Siegers, Dokter Timnas Syarif Alwi, Direktur Teknik PSSI Indra Sjafri, Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (LIB) Ahmad Hadian Lukita, Direktur Operasional PT LIB Sujarno, dan Ketua Save Our Soccer (SOS) Akmal Marhali.